Jadwal Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Tahun Ajaran 2015

Posted by Online Consultant on Monday, January 19, 2015

Ujian Nasional (UN) akan dilaksanakan pada bulan April 2015 mendatang, sedangkan Ujian Sekolah untuk SD/MI sederajat akan diselenggarakan sekitar Mei 2015. Jadwal ujian nasional 2015 dan ujian sekolah 2015 belum disusun secara tuntas karena tanggal-tanggal pelaksanaan belum ditentukan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan melaksanakan tugas kerjanya terkait UN/US 2015 ini dengan mengunjungi beberapa kantor media untuk melakukan diskusi pendidikan, salah satunya membahas UN. Ia mengatakan, perubahan konsep UN yang menghapus fungsi UN sebagai penentu kelulusan diharapkan dapat membawa perubahan perilaku positif bagi siswa, orang tua, guru, maupun pemerintah daerah (Pemda).

Menurutnya, Agenda pihak Kemdikbud banyak. Dan kali ini pihaknya bermaksud sharing rencana perubahan UN yang selama ini menjadi salah satu perhatian, demikian seperti disampaikan Mendikbud dalam pertemuannya dengan redaksi Jawa Pos di Gedung Graha Pena, Jakarta, pada tanggal 16 Januari 2015.

Kedatangan Mendikbud dan rombongan diterima dengan baik Pihak Koran Jawa Pos, Nanang Prianto. Dalam pertemuan tersebut Mendikbud didampingi Kepala Balitbang Kemendikbud, Furqon, dan Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Nizam, dan Plt. Kepala Pusat Informasi dan Humas, Ari Santoso.

Mendikbud mengatakan, UN diharapkan memiliki efek positif bagi masyarakat, yaitu berupa perubahan perilaku bagi siswa, orang tua dan pemerintah daerah. Ia mencontohkan, karena sebelumnya UN digunakan sebagai penentu kelulusan, maka banyak intervensi yang dilakukan guru, sekolah, maupun pemerintah daerah supaya nilai UN di sekolah atau daerahnya tinggi.

Karena itu ia mengeluarkan kebijakan menghapus UN sebagai penentu kelulusan agar ada perubahan perilaku tersebut. “Harapannya kepala daerah tidak perlu mengumumkan berapa persen di daerahnya yang lulus UN,” katanya.

Sebelumnya di beberapa kesempatan, Mendikbud mengatakan UN 2015 tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan, melainkan untuk pemetaan. Pemetaan tersebut tidak hanya dapat digunakan oleh pemerintah pusat, melainkan juga untuk siswa, guru, sekolah dan pemerintah daerah, untuk melihat di mana posisi mereka secara nasional.


Walapun hasil Ujian Nasional (UN) 2015 tidak akan lagi menjadi penentu kelulusan. Namun fungsi UN untuk pemetaan dan syarat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya tetap berlaku. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, hasil UN dapat digunakan untuk melihat posisi siswa, sekolah atau daerah, secara nasional.

Dengan demikian hasilnya bukan lulus atau tidak lulus, tetapi angka. Hasil Ujian Nasional (UN) yang berupa angka itu dilakukan untuk pemetaan, di mana dapat dilihat posisi siswa secara nasional. Jika hasil UN tersebut menunjukkan siswa tidak memenuhi kompetensi nasional, maka siswa dapat mengulang UN di tahun berikutnya. Sehingga ketika anak menerima hasil (UN), dia tahu posisinya di mana. Jadi bukan dinyatakan lulus atau tidak lulus.

Pemetaan dari hasil UN tersebut tidak hanya secara umum per mata pelajaran. Melainkan ada komponen-komponen lebih rinci. Misalnya di mata pelajaran matematika, siswa memiliki kekuatan dalam trigonometri, namun kelemahan dalam bangun-ruang. Begitu juga dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Siswa bisa saja memiliki kompetensi baik dalam membaca wacana, namun lemah dalam prosa.

Dari pemetaan itulah siswa yang belum memenuhi kompetensi nasional bisa mengulang UN di tahun berikutnya, meski ia telah dinyatakan lulus sekolah.


Sumber:
- kemdikbud.go.id
Read more

Ujian Nasional 2015 Akan Digelar Secara Jujur dan Berintegritas

Posted by Online Consultant

Walaupun berbagai pandangan dan pendapat bergulir terkait ujian nasional, baik itu pandangan mendukung ataupun tidak mendukung terhadap adanya ujian nasional, semua wacana dan pandangan tersebut baik adanya karena merupakan cerminan dari demokrasi di bidang pendidikan.

Heterogenitas pandangan dan pendapat tersebut merupakan hal yang wajar, yang dapat menjadi masukkan serta bahan pertimbangan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) dalam merumuskan kebijakan pelaksanaan ujian nasional.

Pihak Kemdikbud pun sebenarnya sudah sempat menggulirkan wacana yang sudah sempat dirumuskan secara terbuka mengenai penggantian Ujian Nasional 2015 dengan Evaluasi nasional. Namun keputusannya Evaluasi nasional belum bisa diterapkan untuk tahun pelajaran 2014/2015.

Akhirnya Evaluasi belajar secara nasional tersebut, ditetapkan melalui ujian nasional. Artinya ujian nasional terus berlanjut dengan berbagai perbaikan / peningkatan dalam penyelenggaraannya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pihak Kemdikbud pun tetap mengakui bahwa ujian nasional masih merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mengevaluasi hasil pendidikan di berbagai jenjangnya.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan bahwa hal terpenting adalah menerapkan ujian nasional secara jujur dan penuh integritas, demikian seperti beliau sampaikan dalam acara forum diskusi kelompok, di kantor Badan Standar Nasional Pendidikan, Jakarta, pada hari Jumat 16 Januari 2015.

Mendikbud menekankan keberhasilan atas kelulusan peserta ujian nasional tidak boleh di politisasi, atau dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu daerah ataupun sekolah. Hal ini menjadi perhatian tersendiri, agar pelaksanaan ujian nasional dapat dilaksanakan dengan jujur dan berintegritas, serta tidak menjadi beban bagi para siswa.

"Pelaksanaan UN yang jujur dapat menanamkan karakter yang jujur juga pada siswa. Kejujuran saat ini akan menjadi potret masa depan," ujar Mendikbud.

Mendikbud mengatakan, berbagai langkah praktis penyempurnaan pelaksanaan ujian nasional akan dilakukan. Mendikbud berharap para peduli pendidikan dan kebudayaan dapat bersama-sama membantu memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan ujian nasional. Forum diskusi kelompok ujian nasional, kata Mendikbud, akan terus dilaksanakan sebagai upaya menyempurnakan pelaksanaan ujian nasional.


Sumber:
- kemdikbud.go.id
Read more

Hasil Kelulusan UN SMK 2014 : 1159 siswa Gagal Ujian Nasional

Posted by Online Consultant on Monday, May 19, 2014

Ujian nasional tahun pelajaran 2013/2014 untuk tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) diikuti peserta sebanyak 1.184.744. Sedangkan program Paket C termasuk program Paket C Kejuruan sebanyak 202.527 orang.

Menurut Kemdikbud, tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) jenjang SMK/MAK tahun 2014 mencapai 99,90 persen. Artinya, sebanyak 1159 dinyatakan tidak lulus UN (Ujian Nasional), namun tingkat kelulusan SMK lebih tinggi daripada tingkat SMA.

Demikian dijelaskan H. Mohammad Nuh (Mendikbud) ketika menggelar jumpa pers mengenai hasil UN SMA/SMK tahun pelajaran 2014 di Gedung Ki Hajar Dewantara Kemdikbud, Jakarta, (19/05/2014).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh juga memaparkan, tingkat ketidaklulusan tersebut merata di berbagai wilayah Indonesia. Selama ini, banyak stigma beredar di masyarakat bahwa angka ketidaklulusan UN banyak terjadi di luar wilayah Pulau Jawa. Menurut Nuh, pandangan bahwa faktor wilayah turut memengaruhi banyak siswa di luar Pulau Jawa tidak lulus UN adalah salah.

"Buktinya, di Provinsi DKI Jakarta sendiri, ada angka ketidaklulusan ini mencapai 102 siswa. Semua merata, di DKI Jakarta juga ada yang tidak lulus," ujar Nuh di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senayan, Jakarta, Senin (19/5/2014).

Nuh menegaskan, masyarakat tidak boleh melabeli sekolah di luar Pulau Jawa tidak berkualitas atau bahwa pelajar di luar Jawa tidak pintar. Dari data yang dimilikinya, banyak juga siswa di ujung timur Indonesia, seperti Papua, lulus UN.

"Karena, yang kami nilai bukan kewilayahan, tetapi kemampuan individu dari siswa tersebut. Selain itu, sekolah yang dikategorikan 'top' tidak tidak serta merta menjamin siswanya 100 persen lulus. Ada juga sekolah yang top kalau memang anaknya tidak bagus, ya, tidak lulus," ucapnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh menjelaskan, ujian nasional (UN) membuat persebaran nilai menjadi lebih lebar, sehingga dapat terlihat lebih nyata kemampuan siswa terhadap pelajaran yang diterima selama sekolah. Hal ini berbeda dengan ujian sekolah (US) yang memiliki deviasi kecil, di mana sebaran nilai mengumpul lebih sempit. Ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa relatif tinggi, sehingga tidak terlihat mana siswa yang bagus maupun yang tidak.

"Kita bisa bandingkan. Nilai sekolah yang diperoleh dari nilai rapor semester 3, 4, dan 5, jika digabung, rata-ratanya mencapai 8,39. Bandingkan dengan UN murni SMA/MA yang rata-ratanya 6,12," kata Mendikbud saat menjelaskan grafik perbandingan antara nilai US dan UN di hadapan wartawan. Pernyataan itu Mendikbud sampaikan dalam jumpa pers hasil UN tingkat SMA/MA/SMK di Jakarta, Senin (19/05/2014).

Sumber:
Kemdikbud
Read more

Pengumuman Hasil UN SMA 2014 : 7811 siswa Tidak Lulus

Posted by Online Consultant

Pada tahun pelajaran 2013/2014 ini ujian nasional tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) diikuti 1.632.757 siswa termasuk SMA Luar Biasa atau SMALB. Sedangkan program Paket C sebanyak 202.527 orang.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) jenjang SMA/MA tahun 2014 mencapai 99,52 persen. Artinya, sebanyak 7.811 (0,48 persen) dinyatakan tidak lulus UN (Ujian Nasional) karena berbagai hal sebagai penyebabnya.

Demikian dijelaskan Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA ketika menggelar jumpa pers mengenai hasil UN SMA/SMK tahun pelajaran 2014 di Gedung Ki Hajar Dewantara Kemdikbud, Jakarta, (19/05/2014). Mendikbud juga menjelaskan tingkat kelulusan untuk jenjang SMK/MAK, yaitu sebesar 99,90 persen. Dari 1.171.907 peserta UN SMK/MAK, ada 1.159 siswa yang tidak lulus.

Kelulusan peserta didik SMA/MA dan SMK/MAK ditetapkan berdasarkan perolehan nilai akhir (NA). Nilai akhir merupakan gabungan dari 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai ujian sekolah/madrasah. Peserta didik SMA/SMK/MA/MAK dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata NA paling rendah 5,5 dan nilai mata pelajaran paling rendah 4,0.

Dari keseluruhan nilai nasional, terdapat 16.497 sekolah (89,40 persen) dengan tingkat kelulusan 100 persen. Sementara itu tidak ada sekolah dengan tingkat kelulusan 0 persen.

Terkait dugaan kecurangan yang terjadi selama penyelenggaraan UN, Mendikbud mengatakan hal tersebut sulit dibuktikan melihat hasil analisis perolehan nilai UN yang nilai rata-rata setiap mata pelajarannya mencapai nilai 5 ke atas. "Agak susah diterima dengan logika yang simpel kalau ada kecurangan yang masif rata-rata bisa 5 koma. Kami tetap berdasarkan realita analisis," tuturnya.

Pihak Kementerian Pendidikan menyarankan, bagi siswa yang tidak lulus UN, bisa mengikuti ujian nasional Paket C pada bulan Agustus tahun ini. Ijazah hasil ujian Paket C tersebut dapat digunakan untuk mendaftar dalam ujian mandiri yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri, atau seleksi masuk di perguruan tinggi swasta. Ijazah Paket C juga dapat digunakan untuk melamar pekerjaan yang mensyaratkan kualifikasi pendidikan lulusan SMA/MA.
Read more

Mekanisme Pelaksanaan Ujian Nasional 2014

Posted by Online Consultant on Thursday, February 27, 2014

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA sempat menghimbau masyarakat untuk memahami Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional secara keseluruhan. Beliau memberi contoh pasal 58 ayat 1 yang sering dijadikan dasar untuk kontra terhadap UN. Di sana tertulis, 'Pendidik berperan mengevaluasi hasil belajar untuk memantau proses kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan'.

Pada pasal 58 ayat 1, memang terlihat gurulah yang punya hak untuk menilai. Mendikbud membenarkan hal tersebut, tetapi penilaian tersebut untuk memantau proses kemajuan. Jika dilihat di ayat dua pada pasal yang sama, yaitu, 'evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan'. Dan diitambah lagi pada pasal 59 ayat tiga, dimana ketentuan mengenai evaluasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ayat 1 untuk evaluasi internal, ayat 2 untuk evaluasi eksternal, dan ayat 3 tentang pengaturan evaluasi dengan peraturan pemerintah.

Ujian Nasional (UN) merupakan evaluasi (penilaian) untuk melihat sejauh mana pencapaian hasil belajar pada proses pendidikan yang telah/sudah berlangsung. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, masih terdapat tugas mulia untuk membenahi pemanfaatan Ujian Nasional.

Pada tahun pelajaran 2013/2014 ini pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen untuk menggelar pelaksanaan ujian nasional yang lebih baik lagi. Dari Mekanisme pelaksanaan UN tahun ini beberapa kegiatan telah mulai dilakukan diantaranya penyerahan master naskah soal ujian nasional (UN) telah diserahkan ke lima perusahaan pemenang lelang penggandaan naskah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, Senin (24/02/2014). Selanjutnya, naskah tersebut akan digandakan hingga 18 Maret mendatang.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud, Dadang Sudiyarto, mengatakan, setelah digandakan, naskah soal dan lembar jawaban ujian (LJU) akan didistribusikan ke ibu kota provinsi. Pendistribusian dijadwalkan tanggal 19-31 Maret 2014 dengan pengawasan dari perguruan tinggi, LPMP, dan Polri.

Setelah sampai di provinsi, tanggal 1 April dijadwalkan naskah UN akan diserahkan kepada dinas pendidikan provinsi melalui panitia pelaksana hasil pekerjaan (PPHP) dan disaksikan oleh perguruan tinggi, LPMP, dan Polri. Dari dinas, naskah tersebut akan didistribusikan kembali ke penyimpanan sementara di kabupaten/kota. Pendistribusian tahap ini melibatkan panitia dari Kanwil Kemenag dan diawasi oleh perguruan tinggi, LPMP, dan Polri.

Dadang menjelaskan, setelah berada di titik penyimpanan sementara naskah UN dijaga oleh perguruan tinggi, LPMP, dan Polri. Pengambilan semua naskah soal dan LJUN oleh satuan pendidikan yang lokasinya jauh dari tempat penyimpanan sementara pada 13 April 2014, satu hari sebelum pelaksanaan ujian nasional dengan pengawalan pihak kepolisian.

"Bagi satuan pendidikan yang berada di sekitar lokasi penyimpanan sementara, pengambilan naskah UN dilakukan setiap hari selama UN berlangsung sesuai dengan mata pelajaran yang diujikan," kata Dadang.

Setelah siswa mengerjakan soal UN, perguruan tinggi mengawasi penerimaan LJUN dari satuan pendidikan. Pengawas memastikan amplop LJUN dilem/dilak, ditandatangani oleh pengawas ruang, dan dibubuhi stempel satuan pendidikan. "Soal dan LJUN tidak dikumpulkan terlebih dulu di ruang kepala sekolah, agar tidak ada dugaan kecurangan," katanya.

Proses pemindaian LJUN dilakukan dengan menggunakan software yang ditentukan oleh pelaksana UN tingkat pusat. Panitia menjamin, keamanan proses pemindai LJUN terjaga dan akan disampaikan hasil pemindaian ke pelaksana tingkat pusat.

Sebagai informasi bahwa teknis pelaksanaan ujian nasional (UN) akan dilaksanakan mulai 14 April mendatang. Kepala Balitbang Kemdikbud, Furqon, saat membuka rapat koordinasi nasional (Rakornas) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dengan dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota, dan perguruan tinggi, hari ini, mengatakan, UN Tahun Pelajaran 2013/2014 adalah istimewa. Selain karena menjadi UN terakhir pada pemerintahan kabinet bersatu II, pelaksanaan UN tahun ini juga hampir bersamaan dengan pemilihan umum legislatif. "Untuk itu, sesuai arahan Mendikbud, pelaksanaan UN harus cermat dan sesuai agenda. Semoga sukses, Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin!


Sumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Read more